Pembelajaran inovatif
Kata inovatif dimaknai sebagai beberapa gagasan dan teknik yang baru. Adapun kata inovasi, berarti pembaharuan. Pembelajaran, merupakan terjemahan dari learning, yang artinya belajar. Jadi, pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang dikemas oleh guru atas dorongan gagasan baru untuk melakukan langkah-langkah belajar dengan metode baru sehingga memperoleh kemajuan hasil belajar. Pembelajaran inovatif juga merupakan wujud gagasan atau teknik yang dipandang baru agar mampu memfasilitasi siswa untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan. Pembelajaran dapat juga juga sebagai suatu gagan yang muncul karena pembelajaran dirasa statis, klasik, dan tidak produktif dalam memecakkan masalah belajar. Oleh karena itu, dibutuhkan paradigma baru yang dapat memecahkan masalah tersebut.
Pada digma lama memiliki masa suram yang ditandai dengan:
Guru sebagai pengajar bukan pendidik, sumber pengetahuan dan serbatahu
Sekolah teikat dengan jadwal yang ketat
Belajar dibatasi kurikulum
Basis belajar hanya berkutat pada fakta, isi pelajaran, dan teori semata
Hafalan menjadi agenda utama bagi siswa
Keseragaman
Kelas menjadi fokus utama
Komputer lebih dipandang sebagai objek
Penggunaan media statis lebih mendominasi
Komunikasi terbatas
Penilaian lebih bersifat normatif
Pembelajaran inovatif dirasa mampu memfasilitasi siswa untuk mengembangkan kecakapan hidup. Dengan demikian pembelajaran inovatif ditandai dengan:
Pembelajaran bukan pengajaran
Guru sebagai fasilitator, buka instruktur
Siswa sebagai subjek, bukan objek
Multimedia, bukan monomedia
Sentuhan manusiawi, buka hewani
Pembelajran induktif, bukan deduktif
Pembelajaran dan meteri bermakna dagi siswa, bukan hanya dihafal
Keterlibatan siswa parisipasi
Adapun prinsip-prinsip pembelajaran inovatif yang dapat dipakai dalam melaksanakan proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
Berpusat pada siswa
Pembelajaran yang menerapkan pedagogi yang mengorientasikan siswa kepada situasi yang bermakna, kontekstual, dunia nyata, dan menyediakan sumber belajar, bimbingan, petunjuk bagi pembelajaran ketika mereka mengembahkan pengetahuannya tantang materi.
Berbasis masalah
Pembelajaran hendaknya dimulai dari maslah-maslah aktual, autentik, relevan, dan bermakna bagi siswa. Pembelajaran yang dibangun berdasarkan materi ajar seringkali terlepas dari aktual di masyarakat. Akibatnya, siswa tidak dapat menerapkan konsep yang dipelajari di dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Terintegrasi
Di dalam inovasi pembelajaran pendekatan terintegrasi lebih diharapkan dari padaa pendekatan disiplin ilmu. Kelemahan pendekatan disiplin ilmu adalah siswa tidak dapat melihat sistem, mereka akan terkotak pada satu disiplin, sehinnga tidak heran seorang guru ketika bertanya “Apa fungsi air?” dia malah bertanya air apa? Mengapa ada banyak air? Gur tersebut menjawab ada dua macam air, yaitu air IPS dan ait IPA yang fungsinya berbeda
Berbasis masyarakat
Mengajak siswa untuk mengimplementasikan yang dipelajari dari dalam kelas ke konteks mesyarakat atau sebaliknya mengambil masalah-masalah yang terjadi di mesyarakat sebagai bahan untuk keterampilan dan pengetahuan yang lebih dalam, merupakan proses pembelajaran yang bermakna.
Memberikan pilihan
Setiap oarang bersifat unik, berbeda-beda antara oarang yang satu dengan orang yang lain. Demikian pula dengan siswa yang belajar, mereka memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, kecepatan belajar, pusar perhatian, dan sebagainya yang berbeda pula. Pembelajaran inovatif memberikan perhatian pada variasi karakteristik siswa tersebut. Oleh karena itu, pembelajaran lebih pada apa yang di inginkan oleh siswa, bukan guru.
Tersistem
Hasil belajar sering kali bersifat hierarki, begitu pala subtansi materi pelajaran. Materi tertentu membutuhkan pengetahuan lain sabagai prasyarat yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum seseorang dapat mempelajari materi tersebut. Begitu pila keterampilan-keterampilan tertentu terutama psikomotor yang bersifat prosedural, yang memiliki langkah yang harus dilakukan secara sekuensial sebelum dapat menuntaskannya dengan baik
Berkelanjutan
Belajar sebagai sebuah proses tentunya tidak terpotong-potong. Namun, belajar merupakan rangkaian pemehaman terhadap sesuatu secara terus-menerus. Untuk itu, pembelajaran inovatif berorientasi pada pembelajaran yang berkelanjutan sampai pada tingkat kedalaman dan keluasan materi
Ada pun berbagai model pembelajaran inovatif adalah sebagai berikut:
Model pembelajaran langsung (Direct Instruction)
Model pembelajaran langsung merupakan suatu pendekatan yang dirancang untuk membantu siswa dalam mempelajari keterampilan dasar yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif (dapat diungkap dengan kata-kata) dan pengetahuan prosedural (bagai mana melakukan sesuatu) yang dapar dijarkan secara bertahap. Adapaun ciri-ciri dari model langsung ini adalah sebagau berikut:
Perhatian : pengamatan akan dapat memperlihatkan perilaku dengan baik apabila perilaku jelas dan tidak terlalu kompleks.
Retensi : suatu perilaku yang teramati dapat dimantapkan jika pengamatan dapat menghubungkan dengan pengalaman sebelumnya
Produksi : memeberikan kesempatan pada siswa untuk mengulang keterampilan baru secara bergilir
Motivasi : penguatan diberikan pada siswa agar siswa dapat melakukan dengan baik dan benar
Pembelajaran langsung memiliki sintaks sebagai berikut
| Fase | Peran guru |
| Fase I menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa | Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar dan memberikan motivasi kapada siswa |
| Fase II Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan | Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap |
| Fase III membimbing pelatihan | Guru merencanakan dan memberikan bimbingan pelatihan awal |
| Fase IV mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik | Mencek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik |
| Fase V memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan | Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih komplels dan kehidupan sehari-hari |
Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu kegiata pembelajaran yang dilakukan dengen cara berkelompok untuk bekerja sama dan saling membantu mengkonstruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4-5 orang, siswa yang heterogen (kemampuan, gender, karakter, dll), ada kontrol dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laoran atau presentasi. Tujuan dibentuknya kelompok adalah untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat aktif dalam proses berpikir dan kegiatan belajar. Selama bekerja dalam kelompok, tugas angggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh guru, dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar. Adapun sintaks-sintaks pembelajaran model kooperatif secara umun adalah sebagai berikut :
-
Fase
Peran guru
Fase I
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
Fase II
Menyampaikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan yang telah disiapkan
Fase III
Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kapada siwa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan mem,bantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase IV
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompokk belajar pada saat mereka mengerjakan tugas belajar
Fase V
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau mesing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase VI
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
Metode pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa tipe dengen lagkah-langkah yang berbeda-beda. Tipe-tipe metode pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
Tipe STAD (Student Teams Achievement Division)
Tiep STAD adalah metode pembelajaran kooperatif untuk pengembangan kemampuan campur yang melibatkan pengakuan tim dan tanggung jawab kelompok untuk pembelajaran individu anggota. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
Menyampaikan tujuan dan memberikan motivasi pada siswa
Menyajikan atau menginformasikan materi
Mengorganisasikan kelompok-kelompok belajar
Membimbing kelompok belajar dan bekerja
Evaluasi
Memberikan penghargaan
Tipe NHT (Number Head Togerher)
Memiliki langkah-langkah sebagai berikut:
Mengarahkan
Membuat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu
Memberikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tetapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiap siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja berkelompok
Mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan nomor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas
Mengadakan kuis individu dan membuat skor perkembangan tiap siswa
Mengumumkan hasil kuis dan memberikan reward
Tipe JIGSAW
Memiliki langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:
Siswa dibafi dalam beberapa kelompok (tiap kelompok terdiri dari 5-6 orang)
Materi pelejaran dinerikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab.
Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya. Misalnya, jika materi yang disampaikan mengenai sistem ekskresi. Maka seorang siswa dari satu kelompok mempelajari tentang ginjal, siswa yang lain dari kelompok satunya mempelajari tentang paru-paru, begitu pun siswa lainnya mempelajari kulit, dan lainnya mempelajari hati.
Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya
Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya mengajar teman-temannya
Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenai tagihan berupa kuis individu.
Tipe IK (Investigasi Kelompok)
Investigasi kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks. Memiliki langkah-langkah sebagai berikut:
Memilih topik : siswa memilih sub topik khusus di dalam suatu daerah maslah umum yang biasanya ditetapkan oleh guru. Kemudian siswa diorganisasikan menjadi dua sampai enam anggota kelompok menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas
Perencanaan kooperatif : siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan khusu yang konsisten dengan subtopik yang telah dipilih pada tahap pertama
Implementasi : siswa menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan di dalam tahap ke dua kegiatan pembelajaran hendaknya melibatkan ragam aktivitas dan keterampilan yang luas dan hendaknya mengarahkan siswa kepada jenis-jenis sumber belajar yang berbeda baik didalam maupun di luas sekolah
Analisis dan sintesis : siswa menganalisis dan mensintesis informasi pada tahap ke tiga dan meringkas informasi tersebur dan menyajikannya di depan kelas
Presentasi hasil final : beberapa atau semua kelompok hasil penyelidikannya dengan cara yang menarik, agar siswa yang lain saling telibat satu sama lain dalam pekerjaan mereka, presentasi di koordinasi oleh guru.
Evaluasi : evaluasi dapat berupa penilaian individu atau kelompok
Tipe TPS (Think Pair Share)
Dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Berpikir (think): guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan pelajaran, dan memberikan siswa waktu beberapa menit untuk berpikir
Berpasangan (pair): guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh.
Berbagi (share): gur meminta siswa untuk pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah dibicarakan.
Tipe TGT (Team Games Tounament)
TGT memiliki langkah-langkah sebagau berikut:
Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok mareti dan mekanisme kegiatan
Siapkan meja turnamen secukupnya, misal dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, meja 1 diisi oleh siswa dengan level dari tiap kelompok dan seterusnya.
Pelaksaan tutnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan. Siswa bisa mengerjakan lebih dari satu soal dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu
Bumping, pada turnamen selanjutnya, dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turmamen sesuai dengan sebutan gelar tadi.
Menghitung skor untuk tiap kelompok asal dan individu, memberikan penghargaan.
Pengejaran Berbasis Masalah (Problem Based Instrukction)
Merupakan proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata lalu dari masalah ini siswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya, sehinnga dari ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru. Pengajaran ini dirancang untuk membantu guru memberi informasi sebanyak-banyaknya pada siswa. Dan memiliki sintaks sebagai berikut
-
Tahap
Peran guru
Tahap I
Orientasi siswa pada masalah
Gur menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah
Tahap II
Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Tahap III
Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapat penjelasan dan pemecahan masalah
Tahap IV
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya
Tahap V
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Pengejaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat
Model pembalajaran contekstual teaching learning ini memiliki beberapa tujuan yaitu:
Konstruktivisme (Constructivism) yaitu siswa diharapkan dapar belajar sedikit-demi sedikit dari konteks terbatas. Siswa mengkonstruk sendiri pemahamannya. Pemahaman yang mendalam diperoleh melalui pengalaman belajar bermakna.
Bertanya (Questioning) memiliki tujuan yaitu bagi guru : dapat menuntun siswa berpikir, mengecek pemahaman siswa, membangkitkan respon siswa. Bagi siswa yaitu bertujuan untuk : menggali informasi, menghubungkan dengan pengetahuan yang dimiliki, memecahkan masalah yang dihadapi.
Menemukan (Inquiry) memiliki siklus yaitu: siklus yang terdiri dari mengamati, bertanya, menganalisis dan merumuskan teori, baik perorangan maupun kelompok. Diawali dengan pengamatan, lalu berkembang untuk memahami konsep/fenomena, mengembangkan dan menggunakan keterampilan berpikir kritis.
Masyarakat Belajar (Learning Sociaty) diharapkan siswa dapat berbicara dan berbagi pengalaman dengan orang lain. Ada kerjasama untuk memecahkan masalah. Hasil pembelajaran secara kelompok akan lebih baik daripada belajar sendiri. Ada fasilitator/guru yang memandu proses belajar dalam kelompok.
Pemodelan (Modeling) berjutuan agar guru dapat membahasakan gagasan yang pikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, melakukan apa yang guru inginkan agar siswa melakukan, guru bukan satu-satunya contoh bagi siswa, model berupa orang, benda, perilaku, dll.
Refleksi (Reflection) agar kita dapat mengetahui tentang Cara-cara berpikir tentang apa yang kita pelajari, menelaah dan merespon terhadap kejadian, aktivitas, dan pengalaman, mencatat apa yang telah kita pelajari, bagaimana kita merasakan ide-ide baru, dapat berupa : jurnal, diskusi, dan karya seni.
Penilaian sebenarnya (Authentic Assesment) suatu penilaian yang dilakukan dengan dengan pelbagai cara dan dari pelbagai sumber, untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa, mempersyaratkan penerapan pengetahuan dan keterampilan, tugas-tugas yang kontekstual dan relevan, proses dan produk kedua-duanya dapat diukur.
Secara garis besar langkah-langkah penerapan CTL adalah sebagai berikut:
-
Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan catra bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunga.
laksanakan sajauh mungkin kegiatan unkuiri untuk semua topik
kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)
hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
lakukan refleksi di akhir pertemuan
lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Pembelajaran inQuiri
Inkuiri adalah salah satu pendekatan pada model pembelajaran kontekstual, yang memiliki siklus yaitu: Siklus yang terdiri dari mengamati, bertanya, menganalisis dan merumuskan teori, baik perorangan maupun kelompok, Diawali dengan pengamatan, lalu berkembang untuk memahami konsep/fenomena, mengembangkan dan menggunakan keterampilan berpikir kritis. Metode inkuri sangat tepat digunakan dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Inkuri menawarkan perspektif yang berbeda dalam kurikulum. Melalui metoda inkuiri, siswa/i dapat menanyakan bermacam-macam pertanyaan mengenai topik yang terlitas di benak mereka, juga dapat menentukan sendiri cara mengumpulkan informasi dan menyampaikannya.
Pendekatan inkuiri memiliki beberapa karaktristik sebagai berikut :
Menggunakan ketrampilan berproses
Tidak terikat waktu
Jawaban yang dicari tidak diberi tahukanlebih dulu dan tidak ada dalam buku
Siswa bersemangat
Pembelajaran berpusat pada pertanyaan
Permaslahan dapat dipecahkan oleh siswa
Hipotesis dirumuskan oleh siswa
Siswa mengusulkan cara pemecahan masalah
Semua pendapat dinilai bersama
Siswa melalulan penelitian secara individu atau kelompok
Siswa mengolah data sampai paa kesimpulan
inkuiri merupakan sebuah rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk memcari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuan dengan penuh percaya diri. Sasaran utama dalam inkuiri adalah :
Keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar
Keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran
Mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.
Kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:
Mengajukan pertanyaan atau permasalahan
Kegiatan inkuiri dimulai ketika pertanyaan atau permaslahan diajukan. Untuk meyakinkan bahwa pertanyaan sudah jelas, pertanyaan tersebut dituliskan dipapan tulis, kemudian siswa diminta untuk merumuskan hipotesis
Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan atau solusi permaslahan yang dapat diuji dengan data. Untuk memudahkan proses ini, guru menanyakan kepada siswa gagasan menganai hipotesis yang mungkin. Dari semua gagasa yangada, dipilih salah satu hipotesis yang relevan dengan permasalah yang diberikan
Mengumpulkan data
Hipotesis digunakan untuk menuntun proses pengumpulan data. Dta yang dihasilkan dapat berupa tabel, metrik, atau grafik
Analisis data
Siswa bertanggung jawab menguji hipotesis yang telah dirumuskan dengan menganalisis data yang telah diperoleh. Faktor penting dalam menguji hipotesis adalah pemikiran “benar” atau “salah”. Setelah memperoleh kesispulan, dari data percobaan, siswa dapat menguji hipotesis yang telah dirumuskan. Bila ternyata hipotesis tersebut salah atau ditolak, siswa dapat menjelaskan sesuai dengan proses inkuiri yang telah dilakukan
Membuat kesimpulan
Langkah penutup dari pembelajaran inkuiri adalah membuat kesimpulan sememtara berdasarkan data yang diperoleh siswa.
Adapun sintaks dalam pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:
-
Fase
Perilaku guru
Tahap I
Menyajikan pertanyaan atau masalah
Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan masalah ditulis di papan tulis. Guru membagi siswa dalam kelompok
Tahap II
Membuat hipotesis
Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam merumuskan hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan memprioritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan
Tahap III
Merancang prtcobaan
Guru memberi kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan memprioritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyeledikan
Tahap IV
Melakukan percobaan untuk memperoleh informasi
Guru membimbing siswa mendapatkan informasi melalui percobaan
Tahap V
Mengumpulkan dan menganalisis data
Guru memberi kesempatan pada tiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul
Tahap VI
Membuat kesimpulan
Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpilan
download model yang lain : http://www.ziddu.com/download/8138933/inovatif.zip.html
0 komentar:
Posting Komentar